Home / internasional / PBB Prihatin Atas Rencana Bangladesh Pindahkan Pengungsi Rohingya Ke Pulau Terpencil

PBB Prihatin Atas Rencana Bangladesh Pindahkan Pengungsi Rohingya Ke Pulau Terpencil

PBB Prihatin Atas Rencana Bangladesh Pindahkan Pengungsi Rohingya Ke Pulau Terpencil – Penyidik spesial Komisi HAM PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee mengatakan keprihatinan mendalam atas ide Bangladesh menempatkan 23 ribu pengungsi Rohingya ke satu pulau terpencil. Lee mengingatkan pulau itu peluang tak pantas huni serta dapat menimbulkan krisis baru.

Bangladesh awal kalinya menginformasikan ide menempatkan beberapa pengungsi ke pulau Bhasan Char untuk kurangi kepadatan dalam tempat penampungan pengungsi Cox’s Bazar.

Sekarang seputar 730 ribu penduduk Rohingya ditampung di Cox’s Bazar, sekalian membuatnya kamp pengungsi paling besar pada dunia. PBB mengatakan minoritas Muslim ini melarikan diri dari pembunuhan massal serta pemerkosaan di negara sisi Rakhine, Myanmar, sejak mulai Agustus 2017.

Beberapa pihak mengkritik ide relokasi ini. Mereka mengatakan pulau itu seringkali diterjang badai serta tidak bisa menyiapkan mata pencaharian buat beberapa ribu orang.

” Ada beberapa soal yg belum pula jelas buat saya bahkan juga selesai mengujungi pulau itu, ” papar Lee, dikutip dari ABC Indonesia, Selasa (12/3) .

Termasuk juga, tukasnya, apa pulau itu betul-betul dapat ditempati manusia.

” Relokasi yg tidak terencana dengan baik dan tiada kesepakatan beberapa pengungsi yg mengenai, punya harapan membuat krisis baru, ” kata Lee yg bertandang ke pulau itu pada Januari saat lalu.

Pemerintah Bangladesh, susulnya, berkewajiban menegaskan relokasi ini tak mengakibatkan krisis baru. Selain itu, pemerintah Bangladesh belum pula memberikannya respon pada soal ini.

Status Dapat Dinaikkan ke Step Penuntutan

Lee, yg dilarang mendatangi Myanmar, dalam laporannya ke Komisi HAM PBB di Jenewa mengatakan seputar 10 ribu penduduk sipil melarikan diri dari Rakhine sejak mulai November gara-gara kekerasan serta minimnya dukungan kemanusiaan.

Ia menyudutkan Dewan Keamanan PBB untuk lekas membawa perkara ini ke Pengadilan Kriminil Internasional (ICC) . Menurutnya, beberapa petinggi ICC ikut hadir ke Bangladesh untuk lakukan pengecekan awal perkara ini dapat dinaikkan statusnya ke step penuntutan.

” Ini yg belum sempat berlangsung awal kalinya. Satu langkah kecil ke depan tetapi saya benar-benar mengharapkan soal ini bakal buka banyak perkara yang lain, ” papar Lee kembali.

Pada September terus, jaksa ICC mengawali pengecekan awal apa perkiraan deportasi paksa orang Rohingya dari Myanmar masuk kejahatan perang atau kejahatan pada kemanusiaan. Tapi perwakilan konsisten Myanmar untuk PBB, Kyaw Moe Tun, menyatakan pengadilan yg bermarkas di Den Haag serta dengan cara hukum berdiri sendiri dari PBB, tak punyai yurisdiksi atas Myanmar.

” Meskipun pemerintah tak dapat terima intervensi ICC yg memang dengan cara hukum menyangsikan, tapi Myanmar siap bertanggung-jawab penuh kalau ada bukti kredibel berlangsungnya pelanggaran HAM yg dijalankan di Negara Sisi Rakhine, ” kata Moe Tun.

Pekerjaan sangat menyudutkan, kata Moe Tun, malah konsentrasi pada usaha pemulangan kembali beberapa pengungsi ke Myanmar – tiada menyebutkan kata Rohingya hingga tidak jelas pengungsi manakah yg ia maksudkan.

Pemerintah Bangladesh memiliki rencana merelokasi sekurang-kurangnya 100. 000 orang pengungsi Rohingya yg sekarang ada di kamp pengungsian Cox’s Bazaar dekat perbatasan Myanmar, ke Bhasan Char, satu pulau di selatan Bangladesh.

Relokasi yg diimplementasi oleh Angkatan Laut Bangladesh tengah berjalan serta diperhitungkan lengkap tahun ini.

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina sudah memberikan instruksi dua minggu terus untuk selesaikan relokasi gelombang pertama, sejumlah 23. 000 keluarga Rohingya, dari Cox’s Bazaar ke Bhashan Char pada 15 April. Demikian dikatakan Menteri Negara Penanggulangan Tragedi serta Manajemen Dukungan, Md Enamur Rahman belumlah lama ini, dikutip dari The Dhaka Podium.

Mengonfirmasi kalau pemerintah sudah selesaikan semua persiapan dalam hal demikian, Rahman menyampaikan : ” Perumahan, listrik, komunikasi, perawatan kesehatan, perlindungan badai, pusat-pusat perlindungan topan serta tiap-tiap sarana yang lain berada di sana. “

Di tanya apa populasi internasional –semisal Tubuh PBB untuk masalah pengungsi– dinotifikasi berkaitan ide itu, Enamur Rahman menyampaikan : ” Kami lakukan pertemuan dalam soal ini di kantor perdana menteri serta yg berbeda diskedulkan pada 6 Maret. “

Menurut ide pemerintah, 103. 200 Rohingya dari lebih dari 1 juta yg sekarang terlindung di kamp-kamp sempit Cox’s Bazar bakal dipindahkan ke Bhashan Char dibawah satu project dengan kemungkinan cost lebih dari Rp 3, 8 triliun.

Susah Akses

Bhashan Char, di kenal juga menjadi Thengar Char, terdapat 21 mil laut dari Noakhali, 11 mil laut dari Jahajir Char, 4. 2 mil laut dari Sandwip, 28 mil laut dari Patenga, serta 13, 2 mil laut dari Hatia. Hanya satu moda perjalanan buat masyarakat Bhasan Char, yg terdapat 30 km dari daratan, bisa menjadi kapal yg habiskan waktu tiga sampai tiga 1/2 jam untuk lakukan perjalanan dari Hatia.

Meskipun ada keberatan dari Rohingya serta populasi internasional, pemerintah masihlah mengharapkan kalau ide itu bakal mendukung mengurus populasi pengungsi masif dengan cara disiplin. Satu diantaranya kegelisahan penting yg di ajukan oleh Rohingya pada Bhasan Char yaitu kalau mereka kuatir pulau itu bakal tersapu oleh gelombang pasang.

Daerah itu, dikatakan menjadi cadangan rimba pada tahun 2013, yaitu 10 ribu hektar saat air pasang serta 15 ribu hektar saat air surut. Pulau itu awal kalinya tidak berpenghuni serta sejumlah besar digunakan untuk penggembalaan ternak sampai pembangunan tempat penampungan untuk Rohingya di awali.

About admin